Oleh-Oleh Umroh

January 10, 2012 by:

Al-Hamdulillah
Selain mendapatkan pengalaman spritual luar biasa dalam perjalanan umroh (22 – 31 Juli 2007), saya juga mendapatkan berbagai pengalaman ilmu kewirausahaan, baik dari sesama kelompok jemaah, maupun dari pelaku bisnis yang berada dilingkungan perjalanan umroh tersebut. Untuk kali ini, saya ingin membagi pengalaman yang saya peroleh dari seorang jemaah peserta umroh.
Alkisah, ibu Nekat (sebut saja demikian) adalah seorang ibu paruh baya dengan keterbatasan bahasa (hanya bisa bahasa daerah asalnya, tidak dapat berbahasa Indonesia, apalagi bahasa Arab atau bahasa Inggris dan sekaligus buta huruf), selain bersama sekitar 16 orang peserta lain sesama daerah asalnya, dalam kelompok lebih kecil, ibu Nekat disertai oleh ibu kandungnya (maaf sudah agak pikun) dan ibu tirinya (maaf pendengarannya kurang).
Pada awalnya tidak ada yang aneh dengan kondisi ibu Nekat, karena dia selalu bersama dengan kelompok besarnya. Pada suatu hari ibu Nekat dan kedua orang kelompok kecilnya berada di depan lift dan kebetulan saya berada disana bersama mereka untuk menunggu lift. Disinilah baru saya mengetahui kondisi mereka, ternyata tidak ada satupun dari mereka yang dapat mempergunakan lift. Jadi selama ini, mereka hanya mengandalkan orang lain untuk itu, dimana kalau bukan dengan kelompok besarnya, mereka hanya mengikuti orang yang menggunakan lift tersebut, syukur-syukur kalau orang tersebut satu jurusan (naik atau turun).
Berawal dari kondisi itu, saya tertarik untuk berkomunikasi dengan mereka dan coba membantu kesulitan-kesulitan yang mereka alami (kebetulan saya mengerti sedikit dengan bahasa daerah mereka).
Suatu hari kami serombongan bersiarah ketempat-tempat persiarahan, dimana kebetulan saya satu bus dengan mereka. Selama dalam perjalanan saya berbicang-bicang dengan ibu Nekat, Subhanallah, ternyata banyak sekali dari kehidupan ibu Nekat yang dapat kita jadikan pelajaran maupun yang perlu kita teladani.
Ibu Nekat, semasa mudanya atau saat pertama memulai usahanya tidak mempunyai modal uang sepersenpun, awalnya dia hanya membantu para nelayan untuk menurunkan hasil tangkapan ikan dari perahu atau kapal penangkap ikan dan dibawa ke tempat pelelangan ikan (anda dapat bayangkan berapa yang diperoleh ibu Nekat untuk usahanya pada saat itu). Suatu hari ibu Nekat mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelelangan mewakili salah satu pedagang ikan yang tidak dapat hadir. Entah karena nasib baik atau memang karena pengalaman ibu Nekat yang selalu mengikuti pelelangan (walaupun hanya menonton saja), peran ibu Nekat sebagai penawar dalam lelang dianggap sangat baik oleh pedagang ikan yang diwakilinya.
Mulai saat itu ibu Nekat beralih profesi dari kuli panggul menjadi penawar di pelelangan (walaupun baru sebagai wakil atau bisa kita sebut “joki”). Namanya juga ibu Nekat, setelah berbulan-bulan menjadi joki, dia nekat untuk menjadi pedangang ikan. Awalnya dia berhasil meminjam uang untuk jangka satu hari, dimana uang tersebut dipergunakan untuk melakukan penawaran di pelelangan ikan dan hasilnya dia jual kembali ke pedagang ikan yang lebih besar. Tahap ini kita sebut saja ibu Nekat mempunyai profesi sebagai “pedagang kecil”. Pada tahap ini, ibu Nekat mempunyai pikiran yang sangat sederhana, yaitu bagaimana mengembalikan uang yang dia pinjam tepat waktu…
Selanjutnya, dengan uang yang diakumpulkan sedikit demi sedikit dari profesi sebagai pedagang kecil dan mendapat kepercayaan dari para pemodal untuk menambah jumlah pinjaman dan waktu pinjamannya (dari sehari menjadi satu minggu), ibu Nekat memulai tahap baru dalam karirnya sebagai entrepreneur, yaitu menjadi pegadang ikan skala menengah (kita sebut saja pedagang menengah). Pada tahap ini, ikan yang diperoleh dari hasil pelelangan, dijual kembali kepasar-pasar tradisional di luar daerahnya. Ibu Nekat menyewa mobil bak terbuka untuk keperluan operasionalnya, dan sekaligus bertindak sebagai kenek, kuli angkut dan penjual (ingat pada tahap ini, ibu Nekat hanyalah seorang wanita biasa yang hanya mengerti bahasa daerahnya saja dan butu huruf).
Singkat cerita, dari kerja kerasnya, ibu Nekat setahap demi setahap dapat meningkatkan penghasilan maupun karirnya, saat ini ibu Nekat sudah mempunyai 4 buah kapal penangkap ikan dan statusnya pun sudah meningkat menjadi pedagang ikan besar atau juragan ikan. Lagi-lagi dalam taraf ini, ibu Nekat hanyalah wanita biasa yang hanya mengerti bahasa daerahnya saja dan buta huruf.
Dalam bahasa daerahnya dia menceritakan bahwa saat ini, selain empat buah kapal yang dimilikinya dia mempunyai beberapa kendaraan operasional (mobil bak terbuka), 2 mobil nissan terbaru sebagai mobil pribadi, beberapa buah rumah, emas dan perhiasan yang saya lupa berapa beratnya dan kurang lebih 17 hektar sawah. Diakhir perbincangan, dia menanyakan kepada saya harga mobil crp (ternyata maksudnya Honda CRV), katanya dia pengen beli sepulang umroh.

Dari kisah tersebut, ada beberapa faktor yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran maupun yang perlu kita teladani dari kehidupan ibu Nekat :
1. Jujur
2. Bekerja Keras
Betapa malunya saya pada diri sendiri, dengan gelar master yang saya punyai, dengan kemampuan multi bahasa, finasial dan seabrek kelebihan-kelebihan lain yang saya miliki dibandingkan dengan ibu Nekat, saya hanyalah seorang pemalas (lawan dari bekerja keras yang dilakukan ibu Nekat), kadang-kadang tidak jujur dan terlalu banyak keinginan yang mau dikerjakan yang ujung-ujungnya hanya NATO… Kiranya kisah ibu Nekat dapat menjadi renungan bagi kita semua dan terutama diri saya sendiri….

Filed under: Motivasi

Leave a Reply

*